Tuesday, May 25, 2010

Sejarah Padang Sibusuk

SIKELUMIT SEJARAH

NAGARI PADANG SIBUSUK

DALAM BENTUK POINTERS

(Drs. H. Djamalus Mara Sampono /Anak Nagari Padang Sibusuk)

Banyak orang bertanya kenapa nagari ini bernama Padang Sibusuk, malahan warganya sendiri ada yg tidak tahu kenapa nagarinya bernama Padang Sibusuk. Beberapa generasi baru, terutama yang dirantau meminta supaya nama Nagari dirubah. Namun ninik mamak atau ampek jinih serta pemangku adat di nagari sampai sekarang belum sepakat untuk merobah nama nagari.

1. Tahun 1275 Kerajaan Singosari dibawah raja Kartanegara meluaskan jajahannya ke Kerajaan Malayu Dharmasraya di pulau Sumatra ,yang dikenal dengan Ekspedisi Pamalayu I .

2. Tahun 1343 tercatat yang bernama Aditiyawarman adalah Raja Kerajaan Pagaruyung. Dari Pagaruyuang lah kerajaan Minagkabau ini diperluas sampai Batang Kampar (mengalahkan kerajaan Kuntu), terus selat Malaka, wilayah tengah pulau Sumatera, Batang Hari, Batang Rokan, pantai Timur Selatan, Indrapura, pantai Barat Sumatera sampai Barus.

3. Tahun 1409 Majapahit mencoba menaklukan Pagaruyung dengan mengirimkan Ekspedisi Pamalayu II karena dilihatnya Pagaruyung sudah merupakan kerajaan besar. Ternyata ekspedisi ini dikalahkan di Padang Sibusuk oleh tentara Pagaruyung di bawah komando Datuk Gajah Tongga. Tepatnya di Selatan Nagari Silungkang di Bukit nan Sempit (Kupitan) yang di bawahnya ada celah batang aie yang tidak dapat menembus gunung sebagai sumber pengairan hamparan sawah anak nagari Padang Buluh Kasok. Sejak saat itu kerajaan Pagaruyung benar-benar terlepas dari kerajaan Majapahit.

Padang Sibusuk sebelum itu bernama Padang Buluh Kasok karena banyak tanaman bambu. Namun sejak nagari itu berbau busuk oleh bangkai-bangkai akibat perang dengan pasukan Pamalayu II, maka nagari itu bernama Padang Sibusuk. Pasukan Pamalayu II membawa rombongan pengangkut barang yang diambil dari masyarakat daerah Jambi/Batanghari. Ternyata setelah Pamalayu II kalah, rombongan ini tidak mau kembali ke negerinya.Ada yang mengatakan bahwa jumlah rombonan itu sebanyak 12 orang. Oleh kerajaan Pagaruyung rombongan ini dititipkan kepada Datuk Gajah Tongga Panglima perang Daerah Selatan Kerajaan Pagaruyung. Oleh Datuk Gajah Tongga rombongan tersebut ditempatkan di Pincuran Anyie Kenagarian Padang Sibusuk dengan catatan agar rombongan yg baru ini dibawo salihilie samudik, dijadikan kemanakan, suruh kasawah jo kaladang, dan senasib sepenanggungan dengan masyarakat Padang Sibusuk setempat,karena di Pincuran Anyie waktu itu sudah berpenduduk tetapi masih sedikit. Salah seorang yang ditemui di Pincuran Anyie waktu itu bernama Angku Rhaib. Kalau yang bertanya orang Batu Manjulur, Angku Rhaib mengatakan bahwa ia orang Padang Sibusuk, dan kalau yang bertanya orang Padang Sibusuk, ia katakan bahwa ia orang batu Manjulur. Kalau masyarakat Padang Sibusuk baralek maka Angku Rhaib duduk sejajar/sehamparan dengan pembesar-pembesar Nagari Padang Sibusuk, begitu juga kalau yang baralek masyarakat Batu Manjulur maka Angku Rhaib duduk sejajar/sehamparan dengan pembesar-pembesar Nagari Batu Manjulur. Sejak ditempatkan kemenakan yang baru ini di Pincuran Anyie. Sejak itu pula tempat mereka bernama Kampung Baru Kenagarian Padang Sibusuk.

4. Sejak kerajaan Majapahit dikalahkan kerajaan Pagaruyung tahun 1409 di Padang Sibusuk, keadaan kerajaan Pagaruyung tidak banyak diberitakan lagi, namun tahun 1560 ada Raja pagaruyung yang bernama Sultan Alif yang memeluk agama Islam. Pada masa raja Sultan Alif inilah sistim kerajaan menjadi seperti sekarang ini yaitu Rajo Alam di Pagaruyung, Rajo Adat di Buo Lintau, dan Raja Ibadat di Sumpur Kudus. Ketiga raja itu lazim disebut Rajo TIgo Selo. Raja Sultan Alif meninggal tahun 1680. Didalam Legenda Minangkabau dikatakan bahwa ada seorang pemuda yang bernama Gajah Mada. Ada yang mengatakan Gajah Mada berasal dari Silungkang ada yang mengatakan dari Padang Sibusuk dan ada pula yang mengatakan dari Sungai Langsek. Karena kepandaian dan keberanian dan kesetiaan Gajah Mada ini oleh Raden Wijaya diangkat menjadi pengawal istana. Dan karena kehebatannya sampai-sampai dia diangkat menjadi Perdana Menteri/Patih Kerajaan Majapahit yang dikenal dengan Sumpah Palapanya, yang berisi ingin menaklukan semua kerajaan-kerajaan di Nusantara. Gajah Mada menghilang dalam usia ±80 tahun.

5. Tahun 1821, Nagari Padang Sibusuk terkenal pula dalam keikutsertaanya dalam peperangan yaitu Perang Paderi yang berakhir tahun 1837 yaitu peperangan antara kaum adat dan kaum agama. Dipesisir Barat pulau Sumatera kaum adat menang,karena dibantu Belanda. Sedangkan di Padang Sibusuk kaum adat dan kaum agama berdamai dengan slogan “ Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, syarak mangato adat mamakai ”

6. Dalam perang mempertahankan kemerdekaan tahun 1945-1949 melawan penjajah Belanda, masyarakat Padang Sibusuk tidak sedikit mengalami kerugian, ± 60 buah rumah bagonjong dibumi hanguskan, pemuka masyarakat dan para pemuda ditangkap. Ada yang dibunuh, dipenjara dan dibuang ke Batavia, Cilacap, dan Digul Irian di Sawah Lunto.

7. Padang Sibusuk sejak Belanda sudah mempunyai pusat-pusat pengajian. Ada Thawalib Tanjung Medan di bawah pimpinan Tuanku H.M. Thaib. Ada surua tabing Elok dibawah pimpinan Angku H.Idris dan Angku H. Ibrahim. Di zaman kemerdekaan ada PGAN yang banyak menghasilkan Guru dan Cendikiawan di kabupaten Sawahlunto/Sijunjung. Sekarang ada Kompleks Pendidikan Padang Tonga Padang SIbusuk yang mempunyai 7 sekolah yaitu :

1) TK Ainul Yakin

2) SDN 6 Padang Sibusuk

3) SDN 7 Padang Sibusuk

4) SMPN 3 Sijunjung

5) SMAN 4 Sijunjung

6) MTsN Padang Sibusuk

7) MAN Padang Sibusuk

8. Dalam era reformasi dan babaliek Ka nagari, Kenagarian Padang Sibusuk mempunyai 6 (enam) jorong

1) Jorong Tapi Balai

2) Jorong Kapala Koto

3) Jorong Guguk Tinggi

4) Jorong Simancung

5) Jorong Ladang Kapeh

6) Jorong Kampung Baru

Khusus Jorong Kampung Baru sampai dengan sekarang masih berstatus Desa.

Ada rencana Nagari Padang Sibusuk dan Nagari Batu Manjulur akan membangun Gapura di Jirek Pincuran Anyie tanggal 27 April 2007, tetapi diminta oleh Pemerintahan Kabupaten SIjunjung untuk ditunda karena situasi belum kondusif. Masyarakat Kampung Baru tidak menerima adanya Gapura itu, karena masyarakat Kampung Baru dijanjikan menjadi Pemerintahan Nagari oleh Pemerintah Kabupaten Sijunjung ,setelah terlebih dahulu kembali bergabung ke Nagari Induk Padang Sibusuk, dengan persyaratan harus mendapat persetujuan Kerapatan Adat Nagari ( KAN ) Padang Sibusuk ,sesuai ketentuan yang berlaku di Provinsi Sumatra Barat.

9. Masyarakat Padang Sibusuk sepenuhnya berbudaya Minagkabau. Banagari dan Basuku. Baampek Jinih dan Bajinih nan ampek. Bamamak bakamanakan. Kamanakannyo ada empat golongan, kamanakan batali paruik, kamanakan batali budi, kamanakan batali ameh, kamanakan batali adat. Basako dan bapusako. Memakai pedoman mamagang, manggadai, mampaduai, baganggam bauntuak, dan lain-lain ketentuan adat Minangkabau.

10.Sebelum tahun 1950 masyarakat nagari Padang SIbusuk banyak merantau ke Malaya, Riau, Jambi dan Palembang. Sedangkan sejak tahun 1960 masyarakat nagari Padang Sibusuk banyak yang merantau ke Pulau Jawa ( Jakarta, Bandung, Jogjakarta, dan Surabaya).

Demikianlah “ Sekelumit Sejarah Nagari Padang Sibusuk dalam Bentuk Pointers “ dengan mengharapkan sangat informasi tambahan dari segenap handai tolan. Informasi ini diambil dari berbagai sumber antara lain dari buku yang diterbitkan penulis terkenal dari Sumatra Barat . Terima Kasih.

Padang Sibusuk, 6 Juni 2010